Amerika Serikat membuka babak baru tekanan terhadap Teheran dengan meluncurkan Operation Economic Outcast pada 24 Agustus 2026, kampanye yang dirancang untuk memutus jaringan ekonomi Iran secara global. Sanksi AS terhadap Iran kali ini menyasar hampir 60 individu, perusahaan, jaringan, dan kapal yang dituding menopang pendapatan minyak, program senjata, serta operasi siber.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent menggambarkan operasi tersebut sebagai serangan ekonomi besar yang bertujuan memutus setiap jalur keuangan yang masih menopang pemerintah Iran. Washington tidak lagi hanya membidik institusi Iran, tetapi juga mengancam perusahaan asing yang membantu Teheran mempertahankan hubungan perdagangan internasional.
Langkah itu diumumkan ketika perang AS-Israel dengan Iran mendekati enam bulan dan upaya diplomatik belum menghasilkan terobosan berarti. Al Jazeera melaporkan Bessent menggunakan istilah “economic asphyxiation” untuk menggambarkan strategi membuat Iran semakin terisolasi dari ekonomi global.
Departemen Keuangan AS menyebut sanksi AS terhadap Iran terbaru berfokus pada jaringan yang berhubungan dengan program nuklir, rudal balistik, operasi siber, serta perdagangan minyak. Lima sektor turut mendapat perhatian besar, yakni aset digital, teknologi, emas, penerbangan, dan pelayaran.
Washington menuduh Iran menggunakan perusahaan fiktif, jalur pembayaran rahasia, dan perantara logistik untuk memperoleh teknologi sensitif dari berbagai negara. Lebih dari 20 individu dan entitas di Timur Tengah serta Asia Timur disebut terkait jaringan pengadaan yang membantu lembaga militer Iran memperoleh teknologi dual-use.
Reuters melaporkan paket tersebut juga mencakup kelompok yang dituding melakukan serangan siber terhadap infrastruktur Amerika Serikat, broker minyak, perantara keuangan, dan operator armada bayangan. Lima tanker yang dikaitkan dengan perdagangan energi Iran turut ditetapkan sebagai properti terblokir dalam langkah terbaru Washington.
Di Iran sendiri, Kementerian Intelijen dan Keamanan atau MOIS serta Kementerian Pertahanan dan Logistik Angkatan Bersenjata menjadi target penting. Washington juga memasukkan organisasi dan individu yang menurut Departemen Keuangan terhubung dengan aktivitas kedua institusi tersebut.
Noavaran Axis Private Joint Stock Company atau BRE Line ikut masuk daftar karena dituduh memfasilitasi pengiriman bagi Organisasi Penelitian dan Inovasi Pertahanan Iran. Mohammad Hossein Aslani, Reza Kadkhodai, serta Arman Kahzadian juga disanksi karena dikaitkan Washington dengan aktivitas siber.
Hong Kong dan China Jadi Titik Penting
Salah satu pusat jaringan yang paling banyak muncul dalam sanksi AS terhadap Iran adalah Hong Kong, tempat sekitar selusin entitas dilaporkan masuk daftar. Sweet Ocean Industrial Ltd termasuk perusahaan yang dituding menjadi perantara pengadaan peralatan sensitif bagi institusi teknologi Iran.
RPT Technology Ltd, Feili Co Ltd, Minvur Ltd, Feisu Ltd, Guska Co Ltd, Tiany Technology Ltd, dan MT Trading and Logistics HK Ltd turut disebut. Washington menilai perusahaan-perusahaan itu mempunyai keterkaitan dengan pengadaan, pembayaran atau pengiriman yang menguntungkan pengguna akhir Iran.
Perusahaan pelayaran Shipoil Ltd juga dibidik karena dituduh mengoordinasikan pengisian bahan bakar serta layanan untuk kapal yang membawa minyak Iran. Sky Oil and Gas Asia, Vienna Shipping Co, dan Riqueza Group Ltd termasuk nama lain yang muncul dalam jaringan pelayaran tersebut.
Di China daratan, Shenzhen Sweet Ocean Technology Ltd dianggap sebagai salah satu simpul utama jaringan pengadaan teknologi bagi pelanggan Iran. Perusahaan itu bergerak dalam instrumen pengujian, peralatan laboratorium, produk optik, dan elektronik, sementara direkturnya Tian Jianbai juga terkena sanksi.
Shenzhen Huamei Lianyun International Logistics Co Ltd dituduh menyediakan layanan bagi BRE Line, sedangkan Shenzhen Bositong Logistics, Bositong Supply Chain Shenzhen, dan Lilimoon Navigation turut masuk daftar. Penetapan tersebut memperlihatkan semakin luasnya gesekan ekonomi Washington dengan jaringan bisnis yang beroperasi di China.
Singapura hingga Eropa Ikut Terseret
Singapura juga masuk dalam peta sanksi AS terhadap Iran, terutama melalui perusahaan yang dianggap berhubungan dengan sektor perminyakan dan pelayaran Teheran. Azure Shipping Pte Ltd dibidik karena hubungan yang dituduhkan dengan National Iranian Tanker Company.
Mansoor Tayabbhai Gandhi turut dikenai sanksi bersama dua perusahaan pelayarannya, Trans Arctic Global Marine Services dan Arc Chartering. Wellbred Capital Pte Ltd serta anak usahanya di Swiss dan Uni Emirat Arab juga dikaitkan Washington dengan jaringan perdagangan minyak Mohammad Hossein Shamkhani.
Reuters secara terpisah melaporkan Wellbred mempunyai jaringan bisnis yang menjangkau Uni Emirat Arab, Swiss, Prancis, dan beberapa pasar internasional lainnya. Amerika Serikat menuding jaringan tersebut membantu perdagangan minyak dan petrokimia yang menghasilkan pemasukan besar bagi pihak-pihak terkait Iran.
Daftar baru juga mencakup Vast Mart Sdn Bhd di Malaysia, Estanica Trading Ltd di Inggris, serta La Nivernaise de Raffinage SAS di Prancis. Entitas dan individu lain tersebar di Suriah, Ukraina, Kepulauan Marshall, Yunani, Swiss, serta Uni Emirat Arab.
Sifra Shipping Co di Kepulauan Marshall terkena sanksi karena dituduh mengoperasikan kapal SIFRA yang mengangkut gas minyak cair dan etilena Iran. Dua warga Yunani, Almpertos Tsoris dan Georgios Tsoris, juga disebut berkaitan dengan jaringan Shipoil dan pelayanan kapal-kapal Iran.
Ancaman Sanksi Sekunder Bisa Lebih Berbahaya
Bagian paling strategis dari sanksi AS terhadap Iran justru bukan semata jumlah pihak yang dimasukkan ke daftar hitam, melainkan perluasan ancaman sanksi sekunder. Perusahaan yang tetap mempertahankan hubungan dengan Iran berpotensi menghadapi pembatasan akses ke sistem keuangan Amerika Serikat.
Bessent tidak menentukan satu tenggat yang berlaku untuk seluruh negara, tetapi mengatakan Washington akan memberikan kesempatan kepada perusahaan dan pemerintah untuk meninjau hubungan mereka dengan Iran. Ia menegaskan tidak ada pihak yang secara otomatis kebal, termasuk perusahaan dari China.
Namun Washington sejauh ini belum menjatuhkan tindakan besar terhadap institusi keuangan utama China yang diduga memfasilitasi sebagian perdagangan minyak Iran. Langkah itu dianggap berisiko karena dapat memicu pembalasan Beijing dan memperbesar gangguan pada sistem perdagangan serta keuangan internasional.
China menjadi faktor penentu karena selama beberapa tahun merupakan pembeli minyak terbesar Iran dan sumber pendapatan penting bagi Teheran. Reuters mencatat pengiriman minyak Iran ke China turun menjadi sekitar 534.000 barel per hari pada Agustus, dari 823.000 barel per hari pada Juli.
Pada periode sebelumnya tahun ini, pengiriman tersebut bahkan sempat mencapai sekitar 1,58 juta barel per hari sebelum tekanan Washington semakin intensif. Sebagian transaksi Iran juga disebut menggunakan perusahaan independen, pembayaran dalam yuan, serta pelabelan ulang asal minyak untuk mengurangi risiko sanksi.
Iran dan China Menolak Sanksi AS terhadap Iran
Pemerintah Iran menolak kampanye tersebut dan mengatakan pengalaman menghadapi tekanan ekonomi membuat negara itu mempunyai strategi untuk mempertahankan jalur ekonominya. Menteri Ekonomi Ali Madanizadeh mengatakan sanksi Amerika bukan fenomena baru dan Washington tidak akan mencapai tujuan dengan memutus hubungan ekonomi Iran.
Juru bicara pemerintah Fatemeh Mohajerani mengatakan Presiden Masoud Pezeshkian dan pemerintah akan membawa Iran melewati periode sulit tersebut, meski mengakui tekanan ekonomi tetap ada. Sementara itu, juru bicara IRGC Sardar Mohebi menyebut tekanan ekonomi sebagai bukti kegagalan Washington di medan perang.
China turut menyampaikan penolakan keras terhadap sanksi AS terhadap Iran dengan menyebut sanksi sepihak tidak mempunyai dasar dalam hukum internasional dan mandat Dewan Keamanan PBB. Beijing menilai pendekatan tekanan justru dapat memperburuk konflik dan meminta penyelesaian dilakukan melalui negosiasi.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian mengatakan hubungan ekonomi Beijing dengan Teheran tidak seharusnya dirusak oleh kebijakan unilateral negara lain. China juga menyatakan akan mengambil langkah yang diperlukan untuk melindungi hak serta kepentingan perusahaan dan institusinya.
Posisi Beijing menjadi tantangan terbesar bagi Washington karena efektivitas sanksi AS terhadap Iran sangat bergantung pada kemampuan membatasi penjualan energi Teheran. Jika perdagangan minyak ke China tetap berjalan melalui jaringan alternatif, tekanan ekonomi baru bisa kehilangan sebagian daya pukulnya.
Tekanan terhadap Iran Sudah Berlangsung Puluhan Tahun
Iran sebenarnya telah menghadapi berbagai bentuk sanksi Amerika Serikat sejak Revolusi 1979 yang menggulingkan pemerintahan monarki yang didukung Washington. Pemerintahan Bill Clinton kemudian memperluas tekanan pada 1995 dengan melarang perdagangan dan investasi Amerika Serikat dengan Iran.
Tekanan kembali meningkat pada pertengahan hingga akhir dekade 2000-an ketika Amerika Serikat menargetkan organisasi yang berkaitan dengan IRGC serta sejumlah bank pemerintah Iran. Kesepakatan nuklir 2015 kemudian memberikan pelonggaran sementara setelah Iran mencapai perjanjian dengan kekuatan dunia.
Donald Trump menarik Amerika Serikat dari kesepakatan nuklir pada 2018 dan mengembalikan kebijakan “maximum pressure” terhadap sektor minyak, pelayaran, dan keuangan Iran. Operation Economic Outcast kini memperluas strategi itu dengan memberikan tekanan lebih besar terhadap fasilitator ekonomi di negara ketiga.
Menariknya, pasar minyak tidak langsung bereaksi dengan lonjakan besar setelah pengumuman Washington karena harga justru turun lebih dari dua dolar per barel. Reuters mencatat Brent melemah sekitar 2,35 persen menjadi 92,17 dolar AS, menunjukkan sebagian sanksi sudah diperhitungkan pasar.
Efektivitas sanksi AS terhadap Iran pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh panjangnya daftar individu dan perusahaan yang diblokir oleh Washington. Pertanyaan terbesarnya adalah apakah Amerika Serikat mampu memutus arus minyak, teknologi, pembiayaan, dan logistik tanpa memicu konflik ekonomi lebih besar dengan China.
Bagi Iran, gelombang terbaru menjadi ujian terhadap jaringan perdagangan yang selama bertahun-tahun dibangun untuk menghindari pembatasan Amerika Serikat dan sekutunya. Bagi pemerintahan Trump, Operation Economic Outcast menjadi pertaruhan apakah tekanan ekonomi dapat menghasilkan konsesi yang tidak berhasil dicapai melalui kebuntuan diplomatik sebelumnya.